Arogansi Trump dan diamnya para penguasa Muslim

AROGANSI TRUMP DAN DIAMNYA PARA PENGUASA MUSLIM

Presiden Amerika Donald Trump dalam pidatonya di Gedung Putih pada tanggal 7 Desember 2017 lalu telah mengumumkan pengakuan bahwa al-Quds/Yerusalem adalah ibukota negara Yahudi. Dia lalu memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk mempersiapkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke al-Quds. Trump berkata, Saya memenuhi janji yang saya buat dengan mengakui al-Quds ibukota untuk Israel.
Yang sangat aneh dan mengherankan, sebelum pengumuman itu Trump melakukan komunikasi dengan mayoritas penguasa Muslim yang berkoar-koar tentang al-Quds dan al-Aqsha. Trump berkomunikasi dengan Salman, Abbas, Abdullah, as-Sisi, Muhammad VI, dll. Trump memberitahu mereka bahwa dia akan mengumumkan pengakuannya dalam pidatonya beberapa jam setelah itu. Meski demikian, semua penguasa itu diam seribu bahasa.
Trump sang diktator, musuh Islam dan kaum Muslimtelah memenuhi janjinya kepada Yahudi. Tentu tidak aneh kaum kafir saling menolong satu sama lain. Yang aneh dan mengherankan, para penguasa negeri-negeri kaum Muslim pro kepada kaum kafir itu. Mereka benar-benar mengabaikan firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai para pemimpin kalian. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, sungguh dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (TQS al-Maidah [5]: 51).
Amerika dulu telah mengakui negara Yahudi pada tahun 1948. Para penguasa negeri-negeri kaum Muslim diam. Mereka bahkan membenarkan Amerika. Entitas Yahudi menyempurnakan pendudukan atas Palestina yang tersisa dan al-Quds pada tahun 1967. Amerika pun mendukung pendudukan ini. Para penguasa juga diam seribu bahasa. Bahkan mereka mengambil Amerika sebagai kawan amat dekat dan menjadikan Amerika sebagai mediator solusi dengan entitas Yahudi. Para penguasa Muslim itu melakukan penyesatan dan penipuan bahwa Amerika akan menekan negara Yahudi dan memberi mereka wilayah yang di atasnya didirikan negara (Palestina) meski dilucuti senjatanya dan al-Quds timur menjadi ibu kota untuk mereka.
Sekarang, Amerika melalui lisan Trump mengumumkan pengakuannya bahwa al-Qudsyang merupakan bumi isra dan mikraj, kiblat pertama kaum Muslim, tempat suci ketigaadalah ibukota untuk entitas Yahudi justru setelah sebelumnya Trump berkomunikasi dengan para penguasa Muslim itu. Bahkan Trump mengumumkan dalam pidato pengakuannya itu bahwa dia akan mengirimkan wakilnya untuk bertukar senyum dengan para penguasa itu.
Palestina adalah tanah milik kaum muslimin yang diserahkan wakil kaum Nashrani kepada amirul Mukminin Umar bin Khattab, sebagai khalifah kedua saat itu. Hingga ketika Khilafah Utsmani mengalami kekalahan pada perang pertama Inggris dan Perancis sebagai pemenang perang membagi-bagi wilayah Khilafah Islam. Tanah Palestina menjadi bagian Inggris, lalu menghadiahkannya kepada Yahudi-Israel. Jadi sesungguhnya adalah penjajah yang telah merampas tanah kita. Maka tanah Palestina wajib direbut kembali. Tidak ada kata diplomasi dengan penjajah. Yang ada adalah dengan menggerakkan militer kaum Muslim untuk memerangi entitas Yahudi itu. Allah SWT berfirman: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin (TQS at-Taubah [9]: 14).
Adakah militer negeri-negeri kaum muslimin bergerak untuk melenyapkan entitas Yahudi dari bumi Palestina? Jawabnya tidak. Mengapa? Karena tangan-tangan mereka diikat oleh para pemimpin mereka yang bekerja untuk melayani Trump. Sesungguhnya pemimpin-pemimpin ini telah berkhianat pada Allah, pada Rasul-Nya dan kaum muslimin. Tidakkah datang saatnya kita memiliki pemimpin yang hanya tunduk pada Allah dan Rasul-Nya dan bekerja untuk melayani kaum muslimin. Pemimpin yang akan memerangi Yahudi hingga mereka lari terbirit-birit dan bersembunyi di balik batu dan pohon. Sebagaiamana sabda Nabi: "Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi lalu kaum muslimin membunuh mereka hingga orang Yahudi bersembunyi dibalik batu dan pohon, batu atau pohon berkata, 'Hai Muslim, hai hamba Allah, ini orang Yahudi dibelakangku, kemarilah, bunuhlah dia, ' kecuali pohon gharqad, ia adalah pohon Yahudi'." (HR. Muslim dari Abu Hurairah) dan hal ini sesuai dengan ungkapan arab "Gunung Bergetar "Melahirkan" Tikus"
Diceritakan satu kafilah Arab badui tengah melakukan perjalanan melintasi padang pasir dan lembah.  Setelah lelah menempuh perjalanan mereka sampai di suatu lembah di dekat sebuah gunung.  Mereka memutuskan untuk beristirahat, memasang tenda. Tatkala sedang asik menikmati kopi panas,  tiba-tiba mereka menyaksikan batu-batu kecil berjatuhan dari arah gunung itu.
Khawatir bencana yang mungkin terjadi, mungkin gempa atau gunung meletus, bergegaslah mereka menjauh sambil  tetap  mengamati apa yang terjadi di gunung tersebut.  Tak lama kemudian keluarlah seekor tikus dari salah satu lubang di gunung lari menjauh ke arah lembah yang lain. Tertawalah mereka menyadari hal itu.  "Gunung bergetar tapi hanya melahirkan seekor tikus" kata seorang mereka.
Ya,  itulah ungkapan orang Arab tentang sesuatu yang besar namun hanya menghasilkan sesuatu yang remeh.  Mirip para pemimpin dunia yang baru saja berkumpul di Istambul Turki, Konferensi Luar Biasa OKI. Namun apa yang mereka putuskan dalam pertemuan, yang tentu menghabiskan anggaran yang luar biasa pula, tidaklah menghasilkan keputusan yang luar biasa.  "Hanya menolak keputusan Trump". Itu saja.

Komentar