Indonesia krisis sosok pemimpin ideal
Indonesia krisis sosok pemimpin ideal
Oleh: Radhia Shaleha
Kasus Setya Novanto, tersangka kasus korupsi e-KTP yang mencuat dan menjadi perbincangan hangat masyarakat akhir-akhir ini yang serialnya semakin kompleks dan menarik. Bagaimana tidak menimbulkan perbincangan di masyarakat, di era digital sekarang ini, orang dengan mudah mengakses informasi dengan cepat. Seperti berita yang dilansir dari VIVA, saat menghadiri sidang perdananya Setya Novanto, terlihat sakit dan meminta agar hakim menunda jalannya sidang, bahkan ia juga berkeinginan untuk diperiksa ulang kesehatannya oleh dokter. Padahal menurut pengamatan sejumlah dokter RSCM yang diberi kewenangan oleh KPK dalam menangani kasus kesehatannya, Setya Novanto dinyatakan sehat dan bisa mengkuti siidang untuk memenuhi panggian KPK.
Setya Novanto memang sering melakukan alasan-alasan untuk bisa terlepas dari jerat KPK, mulai dari sakit yang mengaharuskannya dirawat di rumah sakit, kecelakaan mobil dengan menabrak tiang istrik yang sempat viral di dunia maya, dan sekarang kembali berpura-pura sakit saat menghadiri sidang perdananya.
Memang pantas julukan yang diberikan netizen untuk setya Novanto , ‘si belut licin’, dengan berbagai alasan dan insiden yang terencana setya Novanto melakukan beragai cara untuk lepas dari tanggung jawabnya dalam kasus e-KTP.
Banyak komentar yang dilontarkan masyarakat pada Kasus Setya Novanto ini, mulai dari masyarakat awam, sampai pejabat tinggi berkomentar untuk kasus ini. Di kalangan para pejabat, ada yang memberikan komentarnya pada Setya Novanto, bahwa ia harus bersikap gentleman, kalau memang merasa tidak bersalah cobaah jelaskan dengan baik-baik pada masyarakat hal yang sebenarnya agar masyarkat tidak berkomentar yang tidak-tidak. Kalau memang bersalah, hadapi dengan dada yang terbuka, akui semua kesalahan yang dilakukan, karena yang dikorupsi itu adalah hak orang banyak, untuk kepentingan rakyat.
Setya Novanto yang berkiprah dalam dunia politik menjabat sebagai ketua umum salah satu partai besai di Indonesia, partai yang warna khasnya kuning, apa lagi kalau bukan partai golkar. Dan ia juga menjabat sebagai ketua umum Dewan Perwkilan Rakyat. Hal ni membuatnya manjadi salah satu dari sederet orang indonesia yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat.
Sebagai publik figur, seseoramg dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik sehngga bisa menjadi sosok tauladan bagi masyarakat lainnya. Namun apa yatng dilakukan setya Novanto tidaklah mngambarkan pribadi yang patut untuk disebut sebagai sosok tauladan.
Tidak hanya gagal menjadi sosok teladan bagi masyarakat, Setya Novanto juga ikut mencemari perpolitikan Indonesia yang sudah terbilang kotor ini. Sepanjang sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, ada saja politikus yang mengotori citra poitik sehingga membuat kebanayakan masyarakat mengeneralisasi bahwa permainan dalam politik adalah permainan kotor. Padahal tidaklah sepenuhnya pandangan ini benar, kita banyak melihat sosok-sosok pemimpiin negara seperti pada zaman sahabat rasulullah saw. Yang menjalankan politik untuk kepentingan negara dan kemakmuran rakyatnya, mereka memiliki budi pekerti yang luhur, yan bisa menjadi sosok teladan bagi rakyatnya, dan yang lebih penting mereka mampu menyejahterakan rakyat dan memajukan negaranya.
Jika dibandingkan, kemampuan memimpin para pemimpim negara di era modern sekarang dengan para peimpin negara pada masa sahabat bagaikan perbandingan bumi dan langit. Bagaimana tidak, di masa dahulu para pemimpin negara sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam yang mereka anut,merek juga melakukan amar maruf dan nahi munkar dengan semangat yang mengelora. Sehingga terciptalak stabilitas politik yang berdampak pada kemakmuran dan kesejaheraan rakyatnya.
Berkaca dari itu semua, kita sangat mendambakan hadirnya sosok pemimin di negara Indonesia yang kita cintai ini agar mempunyai kepribadian muslim, yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, dan mengemban amanah yang diberikan rakyat dengan baik.
Namun siapakah orang yang bisa menjawab dambaan semua rakyat Indonesia, apakah harus para ulama yang duduk di kursi pemerintahan dan ikut bergulir didunua politik, atau orang yang mempunyai ilmu perpolitikan yang mumpuni yang harus duduk di kursi pemerintahan?
Kita membutuhkan kedua hal ini dalam sosok seorang pemimpin, bila hanya salah satu saja yang terpenuhi pasti akan terjadi kepincangan dalam perguliran rod a pemerintahan, yang akhirnya berdampak buruk juga bagi negara.
Indonesia saat ini sedang mengalami krisis tokoh panutan, kita berharap sepuluh atau duapuluh tahun kedepan akan hadir di tengah-tengah kita, sosok pemimpin yang tidak hanya umara tapi juga ulama. Pendidikan adalah salah satu hal penting yag dapat mewjudkan semua ini.
Oleh: Radhia Shaleha
Kasus Setya Novanto, tersangka kasus korupsi e-KTP yang mencuat dan menjadi perbincangan hangat masyarakat akhir-akhir ini yang serialnya semakin kompleks dan menarik. Bagaimana tidak menimbulkan perbincangan di masyarakat, di era digital sekarang ini, orang dengan mudah mengakses informasi dengan cepat. Seperti berita yang dilansir dari VIVA, saat menghadiri sidang perdananya Setya Novanto, terlihat sakit dan meminta agar hakim menunda jalannya sidang, bahkan ia juga berkeinginan untuk diperiksa ulang kesehatannya oleh dokter. Padahal menurut pengamatan sejumlah dokter RSCM yang diberi kewenangan oleh KPK dalam menangani kasus kesehatannya, Setya Novanto dinyatakan sehat dan bisa mengkuti siidang untuk memenuhi panggian KPK.
Setya Novanto memang sering melakukan alasan-alasan untuk bisa terlepas dari jerat KPK, mulai dari sakit yang mengaharuskannya dirawat di rumah sakit, kecelakaan mobil dengan menabrak tiang istrik yang sempat viral di dunia maya, dan sekarang kembali berpura-pura sakit saat menghadiri sidang perdananya.
Memang pantas julukan yang diberikan netizen untuk setya Novanto , ‘si belut licin’, dengan berbagai alasan dan insiden yang terencana setya Novanto melakukan beragai cara untuk lepas dari tanggung jawabnya dalam kasus e-KTP.
Banyak komentar yang dilontarkan masyarakat pada Kasus Setya Novanto ini, mulai dari masyarakat awam, sampai pejabat tinggi berkomentar untuk kasus ini. Di kalangan para pejabat, ada yang memberikan komentarnya pada Setya Novanto, bahwa ia harus bersikap gentleman, kalau memang merasa tidak bersalah cobaah jelaskan dengan baik-baik pada masyarakat hal yang sebenarnya agar masyarkat tidak berkomentar yang tidak-tidak. Kalau memang bersalah, hadapi dengan dada yang terbuka, akui semua kesalahan yang dilakukan, karena yang dikorupsi itu adalah hak orang banyak, untuk kepentingan rakyat.
Setya Novanto yang berkiprah dalam dunia politik menjabat sebagai ketua umum salah satu partai besai di Indonesia, partai yang warna khasnya kuning, apa lagi kalau bukan partai golkar. Dan ia juga menjabat sebagai ketua umum Dewan Perwkilan Rakyat. Hal ni membuatnya manjadi salah satu dari sederet orang indonesia yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat.
Sebagai publik figur, seseoramg dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik sehngga bisa menjadi sosok tauladan bagi masyarakat lainnya. Namun apa yatng dilakukan setya Novanto tidaklah mngambarkan pribadi yang patut untuk disebut sebagai sosok tauladan.
Tidak hanya gagal menjadi sosok teladan bagi masyarakat, Setya Novanto juga ikut mencemari perpolitikan Indonesia yang sudah terbilang kotor ini. Sepanjang sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, ada saja politikus yang mengotori citra poitik sehingga membuat kebanayakan masyarakat mengeneralisasi bahwa permainan dalam politik adalah permainan kotor. Padahal tidaklah sepenuhnya pandangan ini benar, kita banyak melihat sosok-sosok pemimpiin negara seperti pada zaman sahabat rasulullah saw. Yang menjalankan politik untuk kepentingan negara dan kemakmuran rakyatnya, mereka memiliki budi pekerti yang luhur, yan bisa menjadi sosok teladan bagi rakyatnya, dan yang lebih penting mereka mampu menyejahterakan rakyat dan memajukan negaranya.
Jika dibandingkan, kemampuan memimpin para pemimpim negara di era modern sekarang dengan para peimpin negara pada masa sahabat bagaikan perbandingan bumi dan langit. Bagaimana tidak, di masa dahulu para pemimpin negara sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam yang mereka anut,merek juga melakukan amar maruf dan nahi munkar dengan semangat yang mengelora. Sehingga terciptalak stabilitas politik yang berdampak pada kemakmuran dan kesejaheraan rakyatnya.
Berkaca dari itu semua, kita sangat mendambakan hadirnya sosok pemimin di negara Indonesia yang kita cintai ini agar mempunyai kepribadian muslim, yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, dan mengemban amanah yang diberikan rakyat dengan baik.
Namun siapakah orang yang bisa menjawab dambaan semua rakyat Indonesia, apakah harus para ulama yang duduk di kursi pemerintahan dan ikut bergulir didunua politik, atau orang yang mempunyai ilmu perpolitikan yang mumpuni yang harus duduk di kursi pemerintahan?
Kita membutuhkan kedua hal ini dalam sosok seorang pemimpin, bila hanya salah satu saja yang terpenuhi pasti akan terjadi kepincangan dalam perguliran rod a pemerintahan, yang akhirnya berdampak buruk juga bagi negara.
Indonesia saat ini sedang mengalami krisis tokoh panutan, kita berharap sepuluh atau duapuluh tahun kedepan akan hadir di tengah-tengah kita, sosok pemimpin yang tidak hanya umara tapi juga ulama. Pendidikan adalah salah satu hal penting yag dapat mewjudkan semua ini.
Komentar
Posting Komentar