Tentang Antasari Cendekia
_Serial Keorganisasian_
*Tentang Divisi-divisi dalam Antasari Cendekia*
Oleh : Siti Mashunah
Kegiatan-kegiatan dari divisi-divisi di Antasari Cendekia diharapkan menjadi salah satu sarana pendukung dalam usaha mencapai Standar Mutu Kader secara terpadu, jadi bukan untuk mengkotak-kotakkan pengurus dan anggota pada salah satu divisi yang diminati saja.
Saya berikan beberapa contoh kasus rekaan, misalnya :
- A hanya aktif kalau ada diskusi pinggiran tapi tidak mau terlibat dalam aksi sosial divisi humas
- B membatasi kemampuan menulisnya pada genre fiksi, tidak mau belajar membuat resensi buku, opini dan artikel ilmiah
- C sangat semangat mengikuti training pengembangan diri dan public speaking tapi tidak mau belajar bahasa asing karena bukan jurusannya.
Contoh kasus-kasus di atas semoga tidak terjadi. Memang untuk level pengurus, sebaiknya diberikan amanah yang sesuai minat dan bakatnya, karena untuk mengelola kegiatan khas divisi diperlukan orang-orang yang faham tentang divisi tersebut, mampu berkreatifitas tapi tetap dalam lingkup bidangnya.
Suatu hal yang wajar juga jika kita lebih menyukai atau kemampuan kita lebih terlihat di salah satu bidang, bahkan munculnya spesialisasi/kepakaran tertentu adalah hal yang sangat kami harapkan dari kader, namun catatan yang penting untuk difahami adalah bahwa semua divisi AC itu memang sudah dikonsep terpadu, sinergis, saling menunjang untuk mencapai Standar Mutu Kader (SMK) AC.
Maksudnya?, begini maksudnya, untuk menjadi seorang cendekia tentunya tidak bisa lepas dari kegiatan intelektual seperti mengkaji, mengikuti perkembangan global, update spesialisasi ilmu jurusannya terkini dan keadaan umat, karena kita ingin menjadi bagian dari problem solver, siapa yang berdiri di depan umat untuk membentengi dari kesesatan nalar dan beragama, kalau kita mahasiswa PTAI sendiri tidak mau tau, tidak mau paham dan tidak mau membela umat Islam?, karena itulah ada divisi kajian ilmiah.
Sambil melakukan kajian yang intensif, sebaiknya kita juga mencari tau dan mengamalkan cara mengatur waktu yang baik, cara mengelola emosi, cara menumbuhkan dan menjaga motivasi internal, cara bekerja sama dalam tim, cara berkomunikasi efektif, cara berdebat yang arif dengan patner diskusi, mengenali ke dalam diri kita, dan lain - lain, sehingga kita tidak hanya cerdas tapi setiap urusan kehidupan kita juga lebih teratur dan aman terkendali, :). Itulah kenapa harus ada divisi Pengembangan Diri.
Bagaimana dengan Divisi Bahasa Asing?, Maha Suci Allah yang menciptakan kita dalam beragam suku dan bahasa, language is the key to the world !, terlalu banyak ilmu yang akan kita lewatkan kalau kita tidak mengerti satupun bahasa asing, minimal pasif, (kalau baca, rada - rada ngerti gitu, :D), karena mayoritas literatur bermutu baik klasik maupun kontemporer memang dalam bahasa asing, iya sekarang memang banyak terjemahan, tapi tetap saja "rasa"nya beda kalau bisa membaca langsung dari sumber aslinya, banyak kosa kata asing yang tidak bisa digambarkan tepat oleh terjemah bahasa kita. Cek saja salah satu syarat diterimanya naskah skripsi, harus ada literatur asing kan?, itulah kenapa penting AC mensuport kita untuk minimal tidak asing membaca dan mendengar orang bicara bahasa arab dan inggris, latihan debat, latihan bicara, tau kosa kata yang penting, tapi AC bukan PPB ya, dan bukan tempat kursus, jadi belajarnya sambil mengkaji suatu tema ilmiah dan have fun aja.
Lalu bagaimana caranya agar semua diskusi dan ilmu yang kita pelajari di atas, bisa terikat dan melekat, bisa disampaikan ke publik?, menulislah!. Verba valent scripta manent (ucapan akan hilang tulisanlah yang abadi), itu motto generasi awal Bengkel Jurnalistik Mahasiswa Profetik, melahirkan tulisan - tulisan khas dan berbobot yang lahir dari perenungan yang mendalam, pengkajian data dan referensi shahih yang luas, semangat intelektual dan jurnalisme profetik yang paling cerdas, paling jujur, mengemban misi dakwah dan kebenaran ilmiah. Itulah tujuan BJMP.
Apakah seorang cendekiawan muslim hanya bertapa di kamar, perpustakaan atau mesjid saja saking sibuknya berpikir dan mengkaji?, tidak!, dia tidak hanya berpikir tapi bergerak memberi solusi, tanggap dan terjun berkontribusi ke masyarakat, berjejaring dengan organisasi dan tokoh-tokoh yang sesuai dengan visi misinya, dan membantu pada yang memerlukan bantuannya, itulah kenapa ada divisi humas kan?, semakin melengkapi Insya Allah.
Jadi begitulah, saya hanya ingin sekali lagi menegaskan bahwa divisi divisi ini ada untuk saling melengkapi, bersinergi bukan mengotak - ngotakkan, jadi kegiatan dari divisi manapun harus diikuti, dan pengurus juga sebaiknya tetap mengembangkan kreatifitas agar kegiatan antar divisi ini semakin terkait dan terpadu. Sebagaimana saya tuliskan di awal, kegiatan divisi adalah salah satu sarana, artinya diperlukan sarana lain untuk membantu kader mencapai SMK, seperti akselarasi dan proses belajar mandiri oleh kader tersebut.
Kalaupun ada pembagian job, itu hanya untuk kelancaran manajemen pelaksanaan kegiatan, agar di setiap divisi ada penanggung jawab masing - masing yang paham apa yang harus dilakukan, itu saja. Sambil berharap hal-hal sederhana yang kita lakukan bersama meringankan beban dibanding berjuang sendirian dan semoga tradisi keilmuan di dalamnya terjaga niat dan pengamalannya sehingga berkah dan bermanfaat, tidak hanya bagi pribadi-pribadi pemiliknya tapi bagi bangsa ini, semoga menjadi amal jariah, aamin
Surabaya, 2012
Komentar
Posting Komentar