Topeng ustadz zaman now
Topeng Ustadz Zaman Now
Media sosial di era globalisasi saat ini sangatlah berperan dalam
kehidupan manusia. Semua yang ada di dunia seakan-akan ada didalam
jejaring sosial ini. Baik itu kebutuhan maupun profesi, dapat dilakukan
dengan media sosial ini. Konsumer media sosial ini pun dari berbagai
tingkat usia, baik balita sampai tua renta. Juga terletak di berbagai daerah,
baik pelosok maupun perkotaan.
Zaman sekarang banyak sekali perkembangan yang terjadi hampir
di segala bidang dan di seluruh penjuru dunia. Perkembangan tersebut ada
yang bersifat kemajuan dan juga kemerosotan, baik secara materi maupun
non materi. Karena tinggi nya tingkat perubahan yang sangat kentara yang
terjadi di zaman sekarang, maka netizen memberi gelar bagi
perkembangan yang terjadi ini dengan sebutan Zaman Now. Semua yang
nyentrik perbedaannya dengan zaman dahulu selalu disertakan
penyebutannya dengan kata-kata “Zaman Now”.
Berkaitan dengan jejaring sosial dan penggunaannya di zaman saat
ini, banyak sekali yang menggunakan media sosial tidak hanya untuk
berjualan ataupun mencari referensi tugas, namun banyak orang-orang
yang menggunakannya sebagai perantara untuk berdakwah. Hal ini
banyak berdampak positif bagi kaum muslim saat ini, dimana mereka
dapat menggunakan media sosial dengan bijak dengan adanya situs-situs
dakwah islami tersebut. Sehingga dengan adanya pendakwah yang
menggunakan media sosial sebagai perantaranya dalam menyampaikan
ajaran-ajaran Islami, dapat mempermudah kaum muslim dalam
mempelajarinya dimanapun dan kapan pun.
Terlepas dari itu, karena media sosial sangat bebas dalam hal
unduh dan mengunduh sehingga terkadang dakwah islam yang ada
tersebut ada yang falid data nya sesuai dengan landasan asal kaum muslim, dan ada juga yang hanya menggunakan embel-embel dakwah
tersebut demi sebuah ketenaran dan secara jelas dakwah yang
disampaikannya malah mengandung unsur sara ataupun data yang
digunaka hanya berdasar logika saja.
Kita lihat contoh kasus yang sedang viral diperbincangkan yaitu
masalah ustadz palsu. Nama Permadi Arya sering disebut-sebut berkaitan
dengan masalah ustadz palsu ini. Kasus ini makin tenar setelah
perdebatan antara Ustadz Permadi Arya ini dengan Ustadz felix Siauw di
salah satu stasiun TV yang membahas tentang reuni aksi 212.
Ustadz Permadi Arya yang juga dikenal dengan sebutan “Abu Janda
Al-Boliwudi” dalam acara tersebut terlihat kontra dengan peristiwa reuni
aksi 212 tersebut, sedangkan ustadz Felix Siauw tampak sekali pro
dengan hal tersebut. Perdebatan yang menarik perhatian warga Indonesia
terutama kaum muslim adalah ketika Ustadz Felix yang akrab disapa
dengan panggilan Kokoh Felix ini menanggapi pendapat dari Ustadz Abu
Janda perihal bendera Hizbut Tahrir dan menyatakan bahwa bendera yang
dikatakan oleh Abu janda tersebut adalah bendera Rasulullah, sesuai
dengan kriteria yang ada dalam hadits. Menurut Ustadz Felix bendera
Rasulullah itu berhak dipakai siapa saja selama ia muslim. Kemudian
setelah panjang lebar Ustadz Felix menjelaskan argumennya, Ustadz Abu
Janda dengan menggebu kembali membalas tanggapan Ustadz Felix ini.
Ustadz Abu Janda menyatakan bahwa Hadits baru ada 200 abad setelah
wafatnya Rasul dan itupun ada yang Dhaif ataupun hadits Maudhu jadi
tidak bisa dijadikan pegangan..
Pernyataan Abu Janda tersebut mendapat berbagai tanggapan dari
berbagai pihak. Pertama dari Ustadz yang hadir juga di acara yang sama
pada waktu itu, Yaitu Ustadz Gatot, beliau spontan menyanggah ungkapan
Abu Janda ini “Kalau gak tau ya gak usah ngomong” ucap Ustadz Gatot
yang merasa kurang nyaman dengan perkataan Abu Janda tersebut Kemudian video cuplikan perdebatan antara Ustadz Felix dan Abu Janda
tersebut makin marak dikalangan netizen. Hingga seorang habib ternama
di Jakarta yaitu Habib Abu Bakar Al-Athas mengunggah video beliau yang
berisi tentang kritikan beliau terhadap ungkapan Abu Janda perihal Hadits
tersebut. Bahkan beliau memberi penekanan bahwa Abu Janda harus
meminta maaf kepada segenap umat muslim di Indonesia atas
pernyataannya tersebut dan apabila tidak maka beliau akan menuntutnya
ke ranah hukum. Tak lama setelah video itu beredar, Ustadz Abu Janda
pun menghadap kepada Habib Al-Athas tadi untuk menjelaskan perihal
ungkapannya sekaligus meminta maaf.
Dari kabar-kabar viral perihal Ustadz Abu Janda yang makin hari
makin banyak yang mencapnya sebagai ustadz palsu zaman now ini, saya
menanggapi bahwa pendapat yang sedang viral itu masuk akal. Menurut
informasi yang saya perhatikan di situs-situs jejaring sosial masa kini,
begitu banyak bukti yang menyatakan bahwa keagamaan Ustadz Abu
Janda ini masih sangat minim. Bahkan beberapa unduhan nya yang ada di
media sosial sering tersurat unsur-unsur sara di dalamnya. Aksen Ia
berbicara dan kata-kata yang sering Ia gunakan sering membuat suasana
panas dan bagi yang mendengar merasa ada sebersit hawa tinggi hati dari
tingkah laku Ustadz Abu Janda ini.
Setelah Tenar kabar tentang tersudutnya Ustadz Abu Janda ini oleh
Ustadz Felix, tersebar kembali berita tentang kemunduran diri nya dari
media sosial. Ia mengatakan akan pensiun dari profesinya sebagai
penggiat media sosial dan berencana banting setir menjadi pedagang
bakmi Turki Utsmani. Ia mengatakan akan memberi nama warungnya
dengan nama orang yang telah membuat dirinya pensiun. Di dalam foto
lampiran berita tersebut terpampang ustadz Abu Janda dengan pakaian
ala tukang masak warung bakmi yang tengah berdiri di depan banner
warung bertuliskan Bakmi “Felix”. Tentang kebenaran berita ini masih menjadi perbincangan hangat para netizen.
Menurut saya, berita terkait keputusan Ustadz Abu Janda tersebut
hanya lah perbuaatan nya yang ingin mencari sensasi saja. Atau ingin
mencibir Ustadz Felix Siauw dengan menjadikan nama Ustadz Felix untuk
nama warung. Perbuatannya ini sangatlah jauh dari perbuatan para ustadz
biasanya. Sangatlah kentara bahwa gelar Ustadz yang disandangnya
hanya membuat ia makin dicibir oleh netizen, karena makin hari unggahan
dan tingkah lakunya makin berisi hal-hal yang absurd dan tidak berfaedah.
Adanya Ustadz palsu seperti Abu Janda ini sebenarnya sedikit
menurunkan muru`ah bagi para Ustadz yang giat berdakwah di media
sosial. Apalagi Ia mengatasnamakan dirinya sebagai orang yang
memegang erat Ahlussunnah wal Jamaah yang bernaung di bawah
Nahdhaatul Ulama. Kehadiranya yang sering membawa-bawa nama NU
tersebut membuat para ulama NU risi dan merasa sedikit terganggu.
Tingkah lakunya juga memicu emosi para umat muslim. Sehingga
ketenaran nya sedikit banyak nya memberi dampak negatif bagi banyak
orang.
Kecerobohan nya dalam berkoar juga bisa memicu orang Non
muslim untuk meremehkan Islam. Banyak orang Non Muslim yang akan
memandang miring terhadap orang Islam. Karena perbuatan Abu Janda ini
sangatlah kekanak-kanakan dan menuai kontrofersi. Ia selalu berbicara
dengan logika dan sering menuding perkataan orang lain yang tak sesuai
dengan nya sebagai perkataan orang yang mengalami cacat logika.
Padahal jika ditelaah lebih dalam, logika yang ia gunakan juga hanya
sebatas pemikirannya sekilas dari otaknya saja, yang belum pasti
kebenarannya. Dan dalam masalah agama, banyak hal yang tidak bisa
dicapai hanya sekedar berlogika. Terkadang yang berteriak maling itulah
pelakunya. Maka pantas lah bila Ia diberi gelar Ustadz Palsu Zaman Now.
Yang menggunakan topeng “Ustadz” demi ketenaran dan kepuasaan nya semata.
Maka dari itu, kita sebagai masyarakat yang berakal hendaknya
selalu berhati-hati dalam menyerap informasi-informasi yang ada di
jejaring sosial, baik hal ilmiah maupun keagamaan. Dan hendaknya bijak
dalam memanfaatkan media sosial ini. Karena di zaman seperti sekarang
ini kata-kata “lidah mu harimau mu” bisa dialihkan menjadi “akun mu
harimau mu”. Maka barang siapa tepat dalam menggunakan media sosial
akan mendapatkan banyak manfaat darinya, sebaliknya jika menggunakan
nya secara keliru maka akan membinasakannya.
Media sosial di era globalisasi saat ini sangatlah berperan dalam
kehidupan manusia. Semua yang ada di dunia seakan-akan ada didalam
jejaring sosial ini. Baik itu kebutuhan maupun profesi, dapat dilakukan
dengan media sosial ini. Konsumer media sosial ini pun dari berbagai
tingkat usia, baik balita sampai tua renta. Juga terletak di berbagai daerah,
baik pelosok maupun perkotaan.
Zaman sekarang banyak sekali perkembangan yang terjadi hampir
di segala bidang dan di seluruh penjuru dunia. Perkembangan tersebut ada
yang bersifat kemajuan dan juga kemerosotan, baik secara materi maupun
non materi. Karena tinggi nya tingkat perubahan yang sangat kentara yang
terjadi di zaman sekarang, maka netizen memberi gelar bagi
perkembangan yang terjadi ini dengan sebutan Zaman Now. Semua yang
nyentrik perbedaannya dengan zaman dahulu selalu disertakan
penyebutannya dengan kata-kata “Zaman Now”.
Berkaitan dengan jejaring sosial dan penggunaannya di zaman saat
ini, banyak sekali yang menggunakan media sosial tidak hanya untuk
berjualan ataupun mencari referensi tugas, namun banyak orang-orang
yang menggunakannya sebagai perantara untuk berdakwah. Hal ini
banyak berdampak positif bagi kaum muslim saat ini, dimana mereka
dapat menggunakan media sosial dengan bijak dengan adanya situs-situs
dakwah islami tersebut. Sehingga dengan adanya pendakwah yang
menggunakan media sosial sebagai perantaranya dalam menyampaikan
ajaran-ajaran Islami, dapat mempermudah kaum muslim dalam
mempelajarinya dimanapun dan kapan pun.
Terlepas dari itu, karena media sosial sangat bebas dalam hal
unduh dan mengunduh sehingga terkadang dakwah islam yang ada
tersebut ada yang falid data nya sesuai dengan landasan asal kaum muslim, dan ada juga yang hanya menggunakan embel-embel dakwah
tersebut demi sebuah ketenaran dan secara jelas dakwah yang
disampaikannya malah mengandung unsur sara ataupun data yang
digunaka hanya berdasar logika saja.
Kita lihat contoh kasus yang sedang viral diperbincangkan yaitu
masalah ustadz palsu. Nama Permadi Arya sering disebut-sebut berkaitan
dengan masalah ustadz palsu ini. Kasus ini makin tenar setelah
perdebatan antara Ustadz Permadi Arya ini dengan Ustadz felix Siauw di
salah satu stasiun TV yang membahas tentang reuni aksi 212.
Ustadz Permadi Arya yang juga dikenal dengan sebutan “Abu Janda
Al-Boliwudi” dalam acara tersebut terlihat kontra dengan peristiwa reuni
aksi 212 tersebut, sedangkan ustadz Felix Siauw tampak sekali pro
dengan hal tersebut. Perdebatan yang menarik perhatian warga Indonesia
terutama kaum muslim adalah ketika Ustadz Felix yang akrab disapa
dengan panggilan Kokoh Felix ini menanggapi pendapat dari Ustadz Abu
Janda perihal bendera Hizbut Tahrir dan menyatakan bahwa bendera yang
dikatakan oleh Abu janda tersebut adalah bendera Rasulullah, sesuai
dengan kriteria yang ada dalam hadits. Menurut Ustadz Felix bendera
Rasulullah itu berhak dipakai siapa saja selama ia muslim. Kemudian
setelah panjang lebar Ustadz Felix menjelaskan argumennya, Ustadz Abu
Janda dengan menggebu kembali membalas tanggapan Ustadz Felix ini.
Ustadz Abu Janda menyatakan bahwa Hadits baru ada 200 abad setelah
wafatnya Rasul dan itupun ada yang Dhaif ataupun hadits Maudhu jadi
tidak bisa dijadikan pegangan..
Pernyataan Abu Janda tersebut mendapat berbagai tanggapan dari
berbagai pihak. Pertama dari Ustadz yang hadir juga di acara yang sama
pada waktu itu, Yaitu Ustadz Gatot, beliau spontan menyanggah ungkapan
Abu Janda ini “Kalau gak tau ya gak usah ngomong” ucap Ustadz Gatot
yang merasa kurang nyaman dengan perkataan Abu Janda tersebut Kemudian video cuplikan perdebatan antara Ustadz Felix dan Abu Janda
tersebut makin marak dikalangan netizen. Hingga seorang habib ternama
di Jakarta yaitu Habib Abu Bakar Al-Athas mengunggah video beliau yang
berisi tentang kritikan beliau terhadap ungkapan Abu Janda perihal Hadits
tersebut. Bahkan beliau memberi penekanan bahwa Abu Janda harus
meminta maaf kepada segenap umat muslim di Indonesia atas
pernyataannya tersebut dan apabila tidak maka beliau akan menuntutnya
ke ranah hukum. Tak lama setelah video itu beredar, Ustadz Abu Janda
pun menghadap kepada Habib Al-Athas tadi untuk menjelaskan perihal
ungkapannya sekaligus meminta maaf.
Dari kabar-kabar viral perihal Ustadz Abu Janda yang makin hari
makin banyak yang mencapnya sebagai ustadz palsu zaman now ini, saya
menanggapi bahwa pendapat yang sedang viral itu masuk akal. Menurut
informasi yang saya perhatikan di situs-situs jejaring sosial masa kini,
begitu banyak bukti yang menyatakan bahwa keagamaan Ustadz Abu
Janda ini masih sangat minim. Bahkan beberapa unduhan nya yang ada di
media sosial sering tersurat unsur-unsur sara di dalamnya. Aksen Ia
berbicara dan kata-kata yang sering Ia gunakan sering membuat suasana
panas dan bagi yang mendengar merasa ada sebersit hawa tinggi hati dari
tingkah laku Ustadz Abu Janda ini.
Setelah Tenar kabar tentang tersudutnya Ustadz Abu Janda ini oleh
Ustadz Felix, tersebar kembali berita tentang kemunduran diri nya dari
media sosial. Ia mengatakan akan pensiun dari profesinya sebagai
penggiat media sosial dan berencana banting setir menjadi pedagang
bakmi Turki Utsmani. Ia mengatakan akan memberi nama warungnya
dengan nama orang yang telah membuat dirinya pensiun. Di dalam foto
lampiran berita tersebut terpampang ustadz Abu Janda dengan pakaian
ala tukang masak warung bakmi yang tengah berdiri di depan banner
warung bertuliskan Bakmi “Felix”. Tentang kebenaran berita ini masih menjadi perbincangan hangat para netizen.
Menurut saya, berita terkait keputusan Ustadz Abu Janda tersebut
hanya lah perbuaatan nya yang ingin mencari sensasi saja. Atau ingin
mencibir Ustadz Felix Siauw dengan menjadikan nama Ustadz Felix untuk
nama warung. Perbuatannya ini sangatlah jauh dari perbuatan para ustadz
biasanya. Sangatlah kentara bahwa gelar Ustadz yang disandangnya
hanya membuat ia makin dicibir oleh netizen, karena makin hari unggahan
dan tingkah lakunya makin berisi hal-hal yang absurd dan tidak berfaedah.
Adanya Ustadz palsu seperti Abu Janda ini sebenarnya sedikit
menurunkan muru`ah bagi para Ustadz yang giat berdakwah di media
sosial. Apalagi Ia mengatasnamakan dirinya sebagai orang yang
memegang erat Ahlussunnah wal Jamaah yang bernaung di bawah
Nahdhaatul Ulama. Kehadiranya yang sering membawa-bawa nama NU
tersebut membuat para ulama NU risi dan merasa sedikit terganggu.
Tingkah lakunya juga memicu emosi para umat muslim. Sehingga
ketenaran nya sedikit banyak nya memberi dampak negatif bagi banyak
orang.
Kecerobohan nya dalam berkoar juga bisa memicu orang Non
muslim untuk meremehkan Islam. Banyak orang Non Muslim yang akan
memandang miring terhadap orang Islam. Karena perbuatan Abu Janda ini
sangatlah kekanak-kanakan dan menuai kontrofersi. Ia selalu berbicara
dengan logika dan sering menuding perkataan orang lain yang tak sesuai
dengan nya sebagai perkataan orang yang mengalami cacat logika.
Padahal jika ditelaah lebih dalam, logika yang ia gunakan juga hanya
sebatas pemikirannya sekilas dari otaknya saja, yang belum pasti
kebenarannya. Dan dalam masalah agama, banyak hal yang tidak bisa
dicapai hanya sekedar berlogika. Terkadang yang berteriak maling itulah
pelakunya. Maka pantas lah bila Ia diberi gelar Ustadz Palsu Zaman Now.
Yang menggunakan topeng “Ustadz” demi ketenaran dan kepuasaan nya semata.
Maka dari itu, kita sebagai masyarakat yang berakal hendaknya
selalu berhati-hati dalam menyerap informasi-informasi yang ada di
jejaring sosial, baik hal ilmiah maupun keagamaan. Dan hendaknya bijak
dalam memanfaatkan media sosial ini. Karena di zaman seperti sekarang
ini kata-kata “lidah mu harimau mu” bisa dialihkan menjadi “akun mu
harimau mu”. Maka barang siapa tepat dalam menggunakan media sosial
akan mendapatkan banyak manfaat darinya, sebaliknya jika menggunakan
nya secara keliru maka akan membinasakannya.
Komentar
Posting Komentar